NIY baRu BidaN

Keluarga Bidan Teladan 2006 Luh Putu Kertiasih A.Md. Keb Beras Merah Menu Utama Keluarga
Oleh arixs
Senin, 06-November-2006, 12:55:50 426 klik

PUSKESMAS sebagai sarana pelayanan kesehatan strata pertama dalam sistem kesehatan nasional. Tak hanya itu, sebagai ujung tombak pembangunan kesehatan di Indonesia yang melaksanakan Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) dan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM), puskesmas memerlukan tenaga medis yang andal serta inovatif, agar pelayanan kepada masyarakat dapat dilakukan secara optimal.

Hal itulah yang menjadi kunci utama bidan peroleh predikat bidan puskesmas teladan se-propinsi Bali, Luh Putu Kertiasih, A.Md. Keb dalam menjalankan visi misinya di Puskesmas II Denpasar Timur. Bersama seluruh bidan puskesmas di Bali, Luh Kertiasih mengikuti lomba tenaga kesehatan teladan tingkat nasional 2006. Berkat ketekunan dan kerja kerasnya menjalankan tugas sebagai tenaga medis, ia terpilih menjadi wakil bidan puskesmas teladan propinsi Bali yang ikut dalam kegiatan shilaturahmi bersama presiden, 16 Agustus 2006, di Istana Negara, Jakarta.
Lomba tenaga medis teladan tersebut diselenggarakan Departemen Kesehatan Nasional. Masing-masing propinsi memilih empat tenaga medis puskesmas, yakni bidan, sanitarian, ahli gizi, dan dokter. Untuk Provinsi Bali, bidan teladan diraih Luh Putu Kertiasih dari Denpasar, sanitarian teladan diraih I Nengah Suarsana dari Karangasem, ahli gizi diraih Ni Nyoman Sudiati dari Klungkung, dan dokter teladan diraih A.A Ayu Agung Chandrawati dari Denpasar.
Dalam lomba tersebut ada empat kriteria penilaian, yakni bagaimana menjalani tugas sebagai insan profesi, insan masyarakat, manajerial, dan tercatat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Kertiasih mengabdi di Puskesmas II Denpasar timur sejak tahun 1989. “Dari awal menjadi tenaga medis, saya sudah mengabdi di puskesmas ini,” ungkapnya. Pelayanan yang ia berikan tak hanya sebatas program KB, namun ia juga aktif memberikan pelayanan gizi melalui posyandu. Seperti kebiasaannya dalam keluarga mengonsumsi nasi beras merah, ia pun menghimbau kepada masyarakat agar selalu memberikan makanan bervarisasi tiap hari, termasuk bubur dari beras merah. “Beras merah menjadi menu utama keluarga tiap hari. Selain menambah nafsu makan anak, vitamin B1 yang terkandung di dalamnya juga dapat mempercepat pertumbuhan,” katanya. Sejak tahun 1997, Kertiasih mengaku telah mengganti makanan pokok keluarganya dengan beras merah. “Agar warnanya tak terlalu merah, saya campur dengan beras putih. Misalnya beras putih satu kilogram, beras merah seperempat kilogram,” ujarnya. Kebiasaan mengonsumsi beras merah muncul saat ia mendapat kiriman beras merah dari kampung kelahirannya di Tabanan. Ternyata hal itu membawa dampak positif terhadap nafsu makan anaknya. “Dengan nasi dari beras merah, nafsu makan anak yang semula kurang menjadi lebih banyak,” akunya. Dibandingkan beras biasa, harga beras merah per kilo nya lebih mahal. Untuk per kilo beras merah, Kertiasih mengaku harus merogoh kocek Rp 7500.
Luh Putu Kertiasih berasal dari keluarga petani. Namun sejak kecil cita-citaya bukan menjadi insinyur pertanian, ia lebih tertarik menjadi seorang tenaga medis. Sejak kecil sikap mandiri sudah di ajarkan kedua orangtuanya. Hal ini dapat terlihat ketika ia duduk dibangku SD, ia dibolehkan tinggal dan menetap di tempat saudaranya di banding ikut orangtuanya. “Sejak SD saya tinggal bersama kakak di Jembrana. Saya mampu menjalani hidup tanpa orangtua,” akunya.
Di sinilah cita-citanya menjadi tenaga medis muncul. “Suatu ketika saya menderita gatal-gatal disekitar kaki. Karena lukanya memerlukan perawatan intensif, maka hampir tiap hari saya ke puskesmas. Dari sinilah saya bisa belajar banyak hal mengenai kesehatan. Cita-cita itu pun akhirnya muncul,” ujarnya.
Ia mewujudkan angan-angannya menjadi tenaga medis dengan melanjutkan sekolah di Sekolah Perawat Kesehatan Denpasar tahun 1987. “Saya kira tiga tahun sekolah perawat, sudah mampu mengambil gelar bidan. Ternyata tak semudah itu. Tapi saya cukup puas, karena lulus SPK, SK saya untuk menjadi PNS tiba. Saya pun mengabdi di Puskesmas II, Denpasar Timur. Turunnya SK itu akhirnya membuat saya membatalkan melanjutkan pendidikan D1 Kebidanan,” ujarnya.
Rasa kecewa bercampur senang berkecamuk dalam hati perempuan kelahiran Tabanan, 27 Juli 1967, ini. Karena gagal masuk kebidanan, Kertiasih memutuskan untuk menikah. Ia pun disunting lelaki asal Buleleng, Ketut Sudarma. Hari pertama menjadi perawat di puskesmas membuat Kertiasih bangga meski pun cita-citanya meraih gelar bidan kandas. Tapi semangatnya tak pernah luntur, melalui buku atau bertanya dengan bidan dan dokter senior ia mampu mempertajam pengetahuannya dibidang kesehatan.
Pelayanan pertama yang ia lakukan adalah menjadi pembina program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) di beberapa UKS yang terletak di kawasan Puskesmas II Denpasar Timur. Tahun 1997, kesempatan melanjutkan D1 kebidanan akhirnya terwujud. “Saya memilih sekolah Akademi Kebidanan di Singaraja,”akunya. Untuk mematangkan kemampuannya, tahun 2002 Kertiasih mengikuti pendidikan di Poltekes Denpasar jurusan kebidanan.
Pengalaman kerja sebagai tenaga bidan mampu membuatnya lebih dekat dengan masyarakat. “Kami rutin mengadakan kunjungan ke masyarakat khususnya yang mempunyai masalah kehamilan. Terkadang jika pasien rutin memeriksakan kehamilan di puskesmas, tiba-tiba tak datang berkunjung, kami langsung mengadakan pemantauan, mencari permasalahan kenapa pasien tak lagi memeriksakan kehamilannya,” ungkap Kertiasih.
Bertugas di daerah perkotaan tak berbeda tingkat kesulitannya dengan bidan desa. Mobilitas penduduk yang tinggi merupakan kendala bagi Kertiasih dalam menjalankan tugas. “Misalnya, karena sebagian besar penduduk kota adalah pendatang, terkadang alamat pasien berpindah- pindah, sehingga kami sulit melakukan pemantauan kesehatan,” ungkapnya.
Kesibukan Kertiasih dibidang kesehatan, tak menjadi alasan untuk tak dekat dengan keluarga. Hal itu dapat terlihat ketika ia menjadi salah satu tenaga medis yang terpilih ikut ke Jakarta. “Meski itu kegiatan dinas, suami dan kedua anak saya ajak. Sambil rekreasi kelurga,” aku ibu dari Gede Suryawan Adiyasa dan Kadek Chandra Kusuma ini.
Sama seperti dirinya, sikap mandiri dan disiplin selalu ditanamkan untuk kedua anaknya. ‘Ketika saya dinas keluar kota, meski laki-laki mereka bisa memasak sendiri atau membersihkan rumah,” ungkapnya.
Ia tak merasa khawatir jika harus berpisah dengan keluarganya karena tugas keluar kota. “Sikap saling percaya selalu kami tanamkan. Dengan pendidikan agama dan budi pekerti yang kami ajarkan untuk anak-anak, saya percaya anak-anak mampu menjaga diri dari pergaulan bebas,” ungkapnya.
Bagi Kertiasih, waktu berkumpul keluarga tak harus diisi dengan kegiatan resfresing keluar rumah. Meski masing-masing anggota keluarga sibuk dengan aktivitas masing-masing, keharmonisan keluarga ini muncul saat sore tiba. “Di pagi hari kami memang sibuk, namun waktu keluarga selalu ada ketika sore hari. Kami selalu membuat kegiatan di rumah yang menyenangkan, misalnya dengan bercerita, kegiatan memasak atau saling curhat. Jadi tiap hari selalu ada waktu untuk berkumpul dengan mereka,” akunya. —lik

Luh Putu Kertiasih, A.Md. Keb.
Luh Putu Kertiasih dan keluarga

Published in: on Juli 2, 2007 at 4:57 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://yiha.wordpress.com/2007/07/02/niy-baru-bidan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: